09 April 2018

Ternyata Pake Powerbank itu nyaman! | Asus Zen Power Slim Review


Sebel nggak sih, di saat  lagi butuh banget pakai Smartphone, eh tau-tau HP nya mati karena kehabisan batrai. Ini sering banget terjadi sama aku. HP semang selalu di tangan, tapi kalau sudah habis batrai, paling mager untuk bergerak mencari colokan dan ngecarge. Aku juga paling malas bawa carger kalau bepergian kemana-kemana. Kecuali kalau perginya jauh, pake acara nginep. Itu sih musti banget bawa carger.

Biasanya, kalau berangkat sekolah. HP aku tuh jarang banget dalam kondisi ada batrainya. Setelah dipake buat nemenin tidur semalam, batrainya pasti habis, dan paginya aku nggak sempet ngecarge karena pagi-pagi rempong beres-beres rumah dan siap-siap mau ke sekolah. Alhasil sering banget ke sekolah bawa HP dalam kondisi matot alias mati total. Kadang suka sebel sendiri ketika mau pake kameranya untuk foto moment seru di kelas, eh HP nya lupa di carge.

Pernah sih sempat terfikir pengen beli powerbank atau penambah daya. Tapi belum kesampean. Lagian Bingung juga mau beli powerbank merk apa. Dulu waktu masih berkelana di Papua pernah punya powerbank, itu pun hadiah dari beli tablet. Yang seminggu kemudian tidak berfungsi lagi. Menyebalkan. Padahal mau beli tablet merk itu karena ada hadiah powerbank nya *maniak gratisan level 7

Pucuk dicinta ulam pun tiba, Seminggu yang lalu aku dipinjemin Powerbank sama om-om dari Blogger Pekanbaru.  Mungkin doski kasihan kali ya liat HP aku tiap ada iven blogger malah lagi matot. Terus pinjam HP sana-sini buat foto-foto. Wahaha. Dengan baik hati dan tidak sombong, om Andrew yang kadang kami panggil Om, kadang Abang (kalau lagi ada maunya) ini meminjamkan aku powerbank dari ASUS. Duh, kalo di ceritain proses peminjamannya, bakalan panjang. Drama banget deh pokoknya!

04 April 2018

Ruang VIP di Kelas Kami


Ruang VIP biasanya dikenal dengan kenyamanan, kemewahan dan fasilitas serba lengkap. Sebut saja ruang VIP di Rumah sakit yang jauh berbeda dengan ruang biasa. Ruang biasa penuh sesak, pasien berbaris-baris, panas dan tidak ada kenyamanan sama sekali. berbeda jauh dengan ruang VIP, apalagi yang kelas I. disana bisa ditemukan TV layar datar yang tergantung di dinding pendingin ruangan dengan suhu yang sangat pas untuk menemani istirahat, dan juga ketenangan yang akan didapatkan karena satu kamar hanya satu pasien.

Begitu juga ruang VIP di bandara dengan segala fasilitasnya. Dari yang diberi akses bebas antri, sampai sofa empuk diruang tunggu yang berharga jutaan.

Nah, bagaimana jika ruang VIP ini ada di dalam lingkungan sekolah, di dalam kelas. Di pojok kelas lebih tepatnya. Akan menarik jika kamu membaca sampai habis ^_^

03 April 2018

Ngobrolin Personal Branding di Sultan Resto



Ceritanya, Selebgram asal Medan @Nasutionrizky lagi ada ivent di Pekanbaru. Kami dari Blogger Pekanbaru langsung gerak cepat menangkap dan menculiknya dari Hotel untuk di ajak nongkrong berfaedah di Sultan Resto yang dengan senang hati memfasilitasi kami ruang special aka VIP buat bisa ngobrol-ngobrol manjah dengan para blogger. Kenapa @Nasutionrizky bisa jadi seleb di instagram? Ya kerena apa yang dia posting tu punya sisi yang bisa buat orang lain suka dan mau jadi followersnya. Makanya followersnya di IG sampai 10k alias sepuluh libu lebih loh pemirsa! Ini bukan followers beli macam seleb-seleb baru jadi ya… ini followers nyata. Dengan menjadi selebgram, job review ( atau bahasa instagramnya Endorse) pun berdatangan. Dengan followers segitu banyak, kebayang dong berapa besaran biaya kalau minta endorse ke dia. Belum lagi panggilan kemana-mana sampai luar kota. Bukan, bukan dipanggil buat jadi tukang urut ya, tapi buat jadi pemateri dan berbagi inspirasi. Nah, seru kan jadi selebgram? Punya followers banyak, jago public speaking. And boom!

Kok bisa?



Nah karena pertanyaan yang sama juga kami mengundang doski buat sharing ke kami para blogger dan juga influencer pekanbaru. E jangan salah ya, di Pekanbaru juga banyak infuencher aka selebgramnya. Gosah di sebutin lah ya. panjang nanti ceritanya.

@Nasutionrizky yang kami panggil kak Rizky ini (padahal lebih muda pun dia dari pada yang manggil) mengawali materi dengan menceritakan kisah suksesnya orang yang tadinya minderan, tidak punya mimpi sampai bisa mewujudkan mimpinya dan berhasil juga punya personal branding di socmed. Ada beberapa orang yang diceritakan, dan aku bisa mengambil benang merah dari cerita-cerita kesuksesan personal branding ini dengan mencatat beberapa hal.

02 April 2018

Mengenalkan Siswa Generasi Milenial dengan Korespondensi. PART #2

Alangkah baiknya sebelum membaca cerita PART #2, baca dulu cerita Part #1 nya DISINI


Bagaikan  gayung bersambut, niatku ingin mengajak siswa berkorespondensi langsung disambut baik oleh komunitas Relawan Muda Riau yang waktu juga menerima ku sebagai salah satu relawannya. (saat ini sudah Vakum karena aku tenggelam dalam kesibukan mencari sesuap nasi dan sebongkah berlian. ehak). Dimana ada TBM (Taman Baca Masyarakat) yang di kelola salah satu relawan di Kuala Enok, Indragiri Hilir, juga sedang mencari partner untuk membalas surat dari anak didiknya di TBM Lentera Ilham. Tentu saja aku langsung exited di tawari tumpukan surat yang di tulis anak-anak SD dari Tembilahan itu. Membayangkan betapa serunya bertukar cerita dengan nuansa berbeda, yang satu dari perkampungan kecil di Inhil, yang satu lagi dari SD Swasta di Kota Pekanbaru. What a beautifull different story will coming up.

Esoknya saat pelajaran berakhir, dan anak-anak juga sudah selesai mengerjakan tugas latihan, aku pun bercerita di depan kelas mengenai korespondensi dan bagaimana teknisnya. Anak-anak sangat antusias dan berulang kali memintaku segera mennyudahi penjelasan dan memberikan amplop-amplop putih itu kepada mereka. Baiklaahh…. Cegku akan bagikan suratnya. Mendadak suasana kelas menjadi heboh.

Antusias sekali membaca surat balasan dari sahabat pena di TBM Lentera Ilham  Kuala Enok, Inhil
Plis jangan close minded dengan I Love You ya. Ini sesama Perempuan :D
kinyis-kinyis dan mengharukan gak sih.... u.. la..la...

Mengenalkan Korespondensi kepada Siswa Generasi Milenial


Generasi 2000 an atau yang lebih dikenal dengan generasi Milenial yang hidup dizaman kemudahan tentu tidak akan pernah kenal dengan yang namanya Korespondesi jika tidak di kenalkan. Padahal kegiatan korespondesi itu sangat seru dan menegangkan!
 Emang korespondensi apaan sih?

Nah, kalau kamu punya pertanyaan seperti itu ketika membaca paragraf pertama, maka kamu termasuk generasi milenial zaman now. Atau mungkin kamu hidup di zaman dulu tapi kurang gaul. Ups!

Jangan ngambek dulu, aku bakal jelasin kok. Sini-sini baca sambil makan cemilan dulu…
Korespondensi adalah kegiatan surat menyurat antara dua orang atau lebih secara terus menerus, artinya kita kirim surat, dibalas sama yang bersangkutan, kita balas lagi dan begitu seterusnya sampai Lee Min Ho melamar aku. krik krik krik.

Dengan berkorespondensi, kita akan memiliki sahabat Pena. Orang yang kita kirimi surat ini bisa orang yang kita kenal, bisa juga orang yang tidak kita kenali. Aku ceritakan sedikit nih ya, tentang pengalaman aku berkorespondensi selama kurang lebih 7 tahun. Wew, lama juga ternyata.

Dulu, aku tinggal di Asrama di sebuah Pondok Pesantren. Dimana waktu itu hobi sekali membaca, terutama novel dan majalah-majalah islami, kalau buku pelajaran sih kurang Hobi ya. hihihi. (Don’t Try this at home!).  Majalah langgananku adalah Majalah Muslimah dan Annida dengan ciri khas Nida si Akhwat dengan jilbab panjang menjulur, sedangkan Novel-novel yang aku gandrungi dari dulu adalah novel-novel islami terbitan Mizan (saat ini Mizania) yang kebanyakan penulisnya adalah dari komunitas FLP (Forum Lingkar Pena).  Di masa itu, saat aku masih memakai rok biru dongker, aku bermimpi ingin bisa menulis cerpen dan menjadi anggota FLP. Yang terwujud 5 tahun kemudian. Alhamdulillah.

Dari berlangganan majalah Annida, aku mendapatkan info novel-novel islami terbaru, dan mulai menjadi idola para penulis novel islami seperti Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, Afifah Afra, Gola Gong, Pipiet Senja sekeluarga dan banyak lagi. Selain mendapatkan info novel terbaru, di majalah Annida juga dulunya terdapat kolom “Sahabat Pena”.  Kolom itu memuat foto dan biodata singkat para koresponden. Disitu aku mencoba mengirimkan surat pertamaku kepada salah satu wanita berjilbab yang kuliah di UNJ. Jadi ceritanya aku mau sahabatan pena sama anak kuliahan, yang mana saat itu aku masih MTs, atau setara SMP. Hehehe… eh tapi aku lupa sih, dapat biodata dan alamat mbak kuliahan itu di majalah Annida atau Majalah Muslimah yang dulu juga sempat terkenal.