06 November 2014

Keluarga Baru [live in papua part #2]


Haaallloo pembaca setia blog gaje ini. Ketemu lagi dengan cerita dari papua #kibas poni

Nggak kerasa udah 2 bulan tinggal di Papua, Alhamdulillah atas doa orangtua, saudara,kerabat dan kalian semua, aku disini masih bisa menghirup udara segar pegunungan, dan masih  bisa ngetik untuk mengisi blog tercintah. Juga untuk mengobati kerinduan sahabat semua #kibas jilbab

Kata kakak-kakak alumni yang SM3T Di papua sebelunya. Penempatan kita tergantung amal ibadah kita selama di Riau. Hahaha.. naik haji keless.. kak Juniar dan Kak Vita, alumni SM3T angkatan III yang bertugas di Lanny Jaya (daerah konflik di Papua, tempat nongrongnya OPM) mereka bilang, bukan hanya tempat tugas yang untung-untungan. Gaji dan honor juga beda-beda. Ada daerah yang memberikan tunjangan besar, bahkan sampai 7 juta perbulan. Ada juga yang sama sekali tidak memberikan tunjangan, dilirik juga kagak. Jadi guru SM3T yang bertugas hanya mendapatkan gaji pokok dari DIKTI Sebesar 2,5 juta perbulan. Kalau di hitung berdasarkan harga barang disini yang kadang bisa sampai 10 kali lipat dari harga Sumatra, 2,5 juta tidak ada artinya. Hidup pas-pasan.

Jadi selama sebelum berangkat, terhitung setelah dinyatakan lulus wawancara sampai detik-detik berangkat, aku selalu berdoa : “Ya Allah, berikanlah aku tempat tugas terbaik dan teman sekelompok yang baik”. Udah gitu doang. Aku lupa minta gaji yang besar. Karena menurutku tempat terbaik itu sudah mencakup semuanya. Kalau tempat tugasku punya Sekda yang baik, kepala Dinas Pendidikan yang perhatian, Kepala Sekolah yang mau bekerja sama, dan guru-guru yang care, aku kira semua pasti akan baik-baik saja.

Alhamdulillahirobbil ‘alamin ala kulli hal. Allah kasi aku rumah yang nyaman, dan teman sekelompok yang baiknya luar biasa. Allah maha mendengar do’a hambanya. Selain punya teman serumah yang baik, Allah juga kasi aku bodyguard gratis sebagai satpam kami 24 jam. Nikmat Allah yang  manakah yang engkau dustakan.?

 Pasti pada penasaran kan.. here we goes.. Aku  kenalkan satu persatu, siapa aja orang-orang yang ada di sekitarku. Yang akan menjadi keluargaku di Papua selama satu tahun ke depan.


Hotmauli Gultom. S.Pd

Hotma, asal Tarakan-Kaltim. cantik yaaa :)
Doski ini umurnya 3 tahun di bawah aku. Iya deh ngaku aja aku udah tuir. Dia anak 2010 jurusan Pend. Kimia Universitas Mulawarman, Samarinda, Kalimantan. Lulus 3,9 tahun aja. IPK 3,41. Hebat? Iyaa.. pinter?? So Pasttii…. Jarang banget anak eksakta bias lulus secepat itu. Bisa lulus SM3T pula.. temen-temen seangkatannya mungkin masih rempong sama proposal dan skripsi. Nilai plus buat temen sekamarku ini.

Dari namanya mungkin pemirsa udah tau, kalau si Hotma ini orang batak. Dan dia beragama Kristen. Dari hasil observasi aku selama 2 bulan hidup sama dia. Anaknya taat banget. Sebelum tidur, sebelum makan, selalu melipat tangannya untuk berdoa. Bangun tidur doski juga berdoa dan membaca Alkitabnya. Kalau lagi waktu senggang, dia mendengarkan lagu-lagu rohani dari laptopnya. Playalist lagu di HP nya juga  dominasi lagu-lagu rohani. Bener-bener Kristen yang taat. Dari dia aku tau tata cara ibadah agama Kristen. Ternyata orang Kristen ibadahnya bukan cuma hari minggu, aku jadi banyak tau tentang agama Kristen protestan ini. Padahal sebelumnya sahabatku di kampus, si Ori Boy juga beragam Kristen. Tapi aku hampir nggak pernah liat dia ibadah, dan  kami jarang sharing soal agama.

Hotma ini, seperti yang aku ceritakan di postingan sebelumnya, dia punya baaaanyak barang-barang urgent. Barang yang uma aku rencanakan untuk membawanya (ujung2nya nggak jadi di bawa), dia bawa semua. Sebut saja Hit listrik, obat-obatan versi mini apotik, segala jenis kaber carger, obat gatal, tisu satu ball dan lainnya nggak bisa di sebutin. Baiknya dia, selalu menawarkan memakai apa yang di bawa, baik itu makanan, atau barang. Ajiibbb….

Dia juga ringan tangan, rajin kerja. Kalau aku cuci piring, dia langsung ambil sapu bersihin rumah, kalau aku masak, dia bantuin racik bumbunya, dan kalau aku tidur, dia juga tidur. Kalau aku nggak mandi, dia juga nggak mandi. Kompak banget kan kami. Hahaha…

Mengenai mandi, kaarna kami nggak punya sumur atau Pam, untuk menghemat tenaga dan meladeni rasa malas, kami mandi 2 hari sekali aja. Lagian kalaupun nggak mandi seminggu pun disini nggak ngaruh, karna nggak pernah keringetan. Wong suhunya 16°- 20° celcius terus sehari-hari. Walaupun matahari bersinar terik, suhu tetap dingin. Aku bersyukur bias merasakan tempat yang sehari-harinya dingin kayak gini. Ya kali aku bisa program pemutihan gitu. Nggak kayak di pekanbaru, panas nya ampun-ampunan.

Back to hotma, setelah ngobrol ngalor ngidul sebelum tidur, ternyata kami punya banyak kesamaan, kayak sama-sama suka drama korea. Dan ternyata koleksi drakornya lebih banyak dari aku. Jadilah kami kalo libur nonton drakor seharian di kamar. Hahaha..

Soal selera juga banyak kemiripan, kalau makan nggak susah. Dia juga Qana’ah banget anaknya. Terima apa adanya. Nggak suka ngeluh dan selalu semangat di ajakin ngapain aja. Cerewetnya juga beda tipis sama aku. Kalo di skala kecerewetan aku dan dia itu 7:10. Bener-bener tipe gue banget . 

Dia juga cepat adaptasi. Apalagi soal bahasa, mungkin karna dia orang batak, dan logat papua agak mirip-mirip dengan batak, jadilah dia lebih cepat bertransformasi dengan logat papua. Sedangkan aku masih memakai logat papua yang ke pekanbaruan (logat apa ini. Entahlah)
 
Kami selalu memikirkan, apa yang bakal kami buat, gimana caranya supaya secepatnya anak-anak semuanya bisa membaca. Gimana ngatur jadwal les, gimana menguasai kelas, model dan media apa yang akan di pakai dan banyak hal lain. Dia dengan ide-idenya, kolaborasi dengan ide yang bercokol dikepalaku. Kami diskusikan mana ide yang layak, ide yang harus cepat dilaksanakan, mana  ide yang tidak layak, atau ide yang bisa di undur pelaksanaannya. Semua kami diskusikan di kamar sempit ini.

bisa punya kamar begini hidup di Papua udah syukur banget cyiinn...
abaikan gordennya yang beda warna :d
Bapak Yoel Wetipo S.Pd.k
makan malam pake nasgor boleh..
Seperti yang aku bilang sebelumnya, kami punya satpam 24 jam. Dan tentu saja tidak gratis. Ceritanya begini. Rumah yang kami tempati ini adalah rumah dinas guru yang sudah di tempati 3 tahun oleh Pak Wetipo. Harusnya kami di tempatkan di ruang perpustakaan, seperti SM3T yang sebelumnya yang bertugas di SD ini. Tapi kerena ruang perpus mau di tempati oleh guru lain, bapak Yan Asso. Jadilah kami di ungsikan di rumah Pak Wetipo. Ketika kami datang, Pak Wetipo sudah menyiapkan sebuah kamar dengan karpet pink dan gorden juga pink. Senangnya hatiku… tralala trilili…

Bapak ini tinggal sendiri dirumah ini. Istrinya tinggal nggak jauh dari sini di sebuah Honai merawat orangtuanya yang sudah tua dan sakit-sakitan. Kadang-kadang istrinya pulang dan menginap di rumah, tapi lebih sering di honainya. Jadi kami cukup leluasa di rumah ini, malah kalau mama (panggilan ibu-ibu di papua) datang, ia lebih terlihat sebagai tamu dari pada tuan rumah. Jadilah kami sehari-hari bertiga dengana Pak Wetipo. Kadang si bapak harus tidur diluar ketika tengah malam ada anak-anak iseng melempari batu ke rumah kami. Kami pun menobatkan paka wetipo sebagai satpam 24 jam. Tentu saja tanpa persetujuan darinya. Muehehehe..

Pak Wetipo adalah sarjana pendidikan agama Kristen di salah satu kampus di Jayapura. Beliau adalah satu-satunya guru yang sarjana di sekolah ini. Guru yang lain hanya lulusan SPG dan paket C. Pak Wetipo sebelumnya mengajar kelas VI. Dan saat ini beliau mengajar di kelas V. dibanding kepala sekolah yang hanya lulusan SPG, berbicara dengan Pak Wetipo lebih asyik, bahasa indonesianya lancar dan mudah di mengerti. Berbanding terbalik dengan kepala sekolah yang agak kesulitan berbahasa Indonesia. Jadi kalau dapat perintah dari kepsek, kami meminta Pak Wetipo menerjemahkannyaa. Alias penjelasan ulang. Nah, sudah dapat satpam, dapat penerjemah pula. Alhamdulillah.

Walaupun sudah cukup banyak berbuat untuk sekolah ini, tapi Pak Wetipo hanyalaah seorang guru honor yang gajinya sudah 6 bulan tidak cair. Makanya jangan heran kalau di rumah yang sudah 3 tahun di tempati ini tetap kosong, tidak ada barang-barang. Hanya beberapa gelas hadiah sabun colek dan piring plastik yang menghiasi dapur. Ketika kami masuk rumah, seperti rumah yang baru di huni, hanya cat dan lantai semennya yang sudah mengelupas menadakan bahwa rumah ini bukan rumah baru.

Untuk makan pun Pak Wetipo hanya makan bubur nasi yang di masak dengan gula. Aku tidak mau membayangkan bagaimana rasanya. Kadang-kadang Pak Wetipo juga merebus ipere, ubi rambat yang banyak di konsumsi orang papua pengganti nasi. Miris nya hidup guru satu ini.


Atas kesepakatan berdua, kami pun patungan untuk membeli perlengkapan urgent berupa rice cooker, pemanas air (yg akhirnya jarang digunakan karena daya listrik tidak cukup kuat.hehehe), alat-alat pembersih rumah, kabel –kabel listrik dan lainnya.

Hari kedua bertugas, setelah rapat pembagian dana BOS, kami pun dapat honor masing-masing 1,1 juta dan  perlengkapan tidur baru dari kepala sekolah. Ada kasur dan bantal. Uang 1,1 juta itulah yang kami gunakan untuk membuat Kampanye Hidup Sehat di sekolah. Membagi-bagikan sikat gigi, odol dan sabun cair gratis. Baca beritanaya di SINI.

Nah lo, ini udah kemana-mana ceritanya. Oke, back to Pak Wetipo

Awalnya kami sempat takut tinggaal satu rumah dengan laki-laki asing ini, orang asli papua, belum kenal, tinggal terpisah dengan istri pula. di awal-awal kedatangan, kami selalu mengunci pintu kamar setiap saat, baik kami sedang di dalam kamar atau saat kami keluar. Malam hari, kami tidak berani keluar kamar untuk ke wc, ada banyak kemungkinan buruk yang kami bayangkan. Kami tidak tau Pak Wetipo di kamarnya sedang merencakan apa. Jadi kami selalu hati-hati dan waspada. 

Setelah hampir satu bulan tinggal bersama beliau, aku pikir kami terlalu jahat berpikir yang tidak-tidak padanya. Ternyata selain guru, beliau juga seorang Gembala di Gereja yang cukup jauh dari rumah. Bapak berkulit hitam ini juga sangat rajin ibadah. Aku sudah menandai waktu-waktunya ibadah adalah 3 kali sehari. Yaitu, sebelum tidur, bangun tidur pagi, dan ketika aku sholat magrib. Biasanya terdengar beliau berdoa dan bernyanyi di kamarnya.


Orang Kristen yang taat dan takut Tuhan, pastilah tidak akan melakukan hal-hal yang dilarang tuhannya. Ketika seseorang percaya akan adanya tuhan, dia pasti akan tetap berada di jalan yang benar. Aku yakin itu. Tapi walau bagaimanapun, yang kami hadapi adalah seorang lelaki normal yang Jablay alias jarang di belay karna tidak tinggal bersama istri. Hahaha. Makanya harus tetap waspada. Insyaallah.

 Jadi, setelah sebulan kami bertugas, ada rapat besar di distrik Minimo, posko temanku dari Riau. Kami semua guru-guru SM3T dari riau berkumpul disana dan menginap 3 hari 2 malam. Disana kami berkeluh kesah tentang keadaan posko.  Di Berbagai macam kondisi yang tak terbayangkan muncul dalam sesi sharing sore itu. Ada yang harus berjalan kaki 2 jam untuk sampe ke lokasi karena tidak ada akses kendaraan, ada yang poskonya sangat jauh dari sekolah dan harus berjalan kaki 1 jam menanjak gunung. Ada yang di sekitar poskonya banyak orang mabuk, jadi posko mereka selalu di gedor dan di palakin duit, ada juga posko yang tidak ada listrik, tidak ada sinyal sama sekali, ada yang poskonya tidak punya sumber air bersih, hanya air hujan harapan untuk bisa di masak, sedangkan untuk mandi, buang air dan wudhu’ sehari-hari, mereka terpaksa memakai air kolam di belakang posko yang warnanya sangat kuning.

Mendengar cerita mereka betapa aku sangat bersyukur, poskoku aman. Bahkan bisa di bilang sangat aman. anak-anak les bisa pulang malam tanpa khawatir ada pemabuk, karna pemabuk disini ada denda dari gerejanya. Poskoku juga ada listrik, ada sinyal untuk telpon, sms dan kadang-kadang BBM (walaupun sendingnya 2 hari kemudian), rumah kami juga ada dalam lingkup sekolah, di sebelah kanan rumah kami adalah rumah pak kepala sekolah, sebelah kiri adalah rumah pak Yan Asso, guru kelas VI. Tak jauh ada rumah penjaga sekolah dan rumah pak Wanimbo, guru kelas II. Masalah air, meskipun tidak punya sumur dan PAM, kami masih bisa menemukan sumber air bersih kira-kira 300 meter dari rumah, anak-anak dan Pak Wetipo selalu membantu kami mengangkat air. Pulang sekolah anak-anak selalu berbondong-bondong datang ke rumah menawarkan diri mengangkat air, sebagai imbalan kami bagikan permen untuk mereka. Ember-ember di kamar mandi tidak pernah kosong. Untuk mencuci, kami jalan-jalan ke sungai yang juga tidak jauh dari rumah, Cuma jalannya agak sedikit naik turun bukit. Muehehe..

otw ke sungai begini pemandangannya.. bisalah untuk joded joged ala india
ini juga jalan menuju sungai
Jadi ketika giliranku untuk sharing masalah di posko, “Alhamdulillah di luar posko aman, justru di dalam posko yang membuat kami khawatir. Karena ada lelaki asing di dalam rumah, beliau jablay loh woyyy..” kataku mengadu dengan teman-teman seperjuangan. Kontan aja mereka semua tertawa.

“Kau aja yang belai, Sah.” Celetuk temanku tak pakai mikir. Seisi ruangan kembali heboh dengan tawa. 

“Emang istrinya kemana, Sa? Tanya temanku yang lainnya. 

Aku mulai menjawab dan bercerita tentang pak satpam kami, tapi walaupun beliau jablay,  insyaallah bisa di atasi dengan kewaspadaan level 7. hehehe… biarlah kami harus was-was tiap hari, kaami juga rela beras kami harus habis 20kg dalam sebulan karna makannya 3 kali lipat kami, tapi kami punya satpam dirumah dan ada yang tukang angkatkan air berember-ember untuk persediaan di kamar mandi. Kurang apalagi cobaaa??

Mereka inilah keluarga baru ku di Papua. Kami akan tinggal satu rumah sampai satu tahun ke depan. Semoga semuanya baik-baik saja. Aku selalu mewanti-wanti dan menjaga supaya tidak ada konflik di rumah ini. Home sweet home. Itulah motto kami bertiga. Kami selalu bergantian mengerjakan tugas rumah. Kalau kami memasakasa, Pak Wetipo pastilah membantu mengangkat air untuk cuci piring, atau di saat pagi kami belum bangun, beliau sudah nongkrong dihalaman membersihkan rumput sambil mendengarkan radio dari handphonenya. Malamnya kami makan malam bersama sambil membincangkan perkembangan di sekolah. Kami banyak bertanya pada pak Wetipo, beliau menjelaskan dengan senang hati, kadang kami juga mengadukan keluh kesah kami padanya, seperti anak yang mengadu pada ayahnya. Di saat weekend kami juga pernah ke kota bertiga. Belanja kebutuhan rumah tangga bersama, dan makan enak di kota. What a beautiful family ^_^

Selain 2 makhluk tuhan ini, masih ada 2 keluarga lagi yang akan aku ceritakan di postingan selanjutnya… tungguin yaaaaaa… and thanks for reading.

See you ^_^

bonus :
penampakan rumah kami dari depan
 
ini de depan halaman rumah kami. sekolah 5 langkah doang. yg pake baju kuning Kepseknya
begini nih kalo les malem. mereka nggak tau jadwal, yang penting dateng aja. bahkan anak SMP juga ada
tamu di rumah kami. absen dulu ya... dari dikiri:
  • darwin (SM3T dari Samarida-Kaltim.poskonya tetanggaan sama kami. naik gunung jalan kaki 1 jam
  • Valent, (Anak SMA ADVENT Sogokmo, asal Manado. karna bandel, di buang disekolahkan mamanya ke papua.
  • Simon ( Anak SMA Advent, asli Papua)
  • Hotma
  • Muti (SM3T Kalimantan, poskonya di Sogokmo. tetanggaan juga. jalan kaki 1 jam)
  • Ibu Selina, istrinya kepsek 
  • Aidi (SM3T Asal Riau. 1 posko sama Darwin)
 
Darwin and Aidi di minggu-minggu pertama kami di papua. waktu mereka masi jadi anak terlantar
lemari rak piring seklaigus tempat penyimpanan stok makanan. ini waktu lagi kosong stok nye
our mini kitchen. ini udah keren banget di banding temen2 lain poskonya pake tungku cyinnn

3 komentar:

  1. amazing bngt, jd pengen jg k sna kak.

    BalasHapus
  2. Biasanya kalo orang yg taat Ibadah di Papua gak bakal macam-macam. Justru mereka bisa jadi sosok Ayah yang menyenangkan. Kecuali kalo dia suka mabuk-mabuk, berarti wajib waspada, bila perlu komunikasikan ama dinas pendidikan setempat atau yang berwenang. Semoga aman terus ya sampe selesai bertugas.

    Keren... Salut untuk semua yang mau mengabdi di Papua walo mungkin motivasinya biar dapat gaji gede dan beasiswa pendidikan profesi hahaha...

    Memang itu cara yg terbaik untuk membujuk anak muda mengabdi ke daerah terpencil dan tertinggal.

    Btw, salam untuk Hotma ya :p

    BalasHapus

setelah baca tapi nggak ninggalin komentar itu sayang banget. ayo dong dikomen. penulis ingin tau reaksi pembaca.. makasih buat yang udah komen :)