19 Juni 2018

Wisata Sambil Belajar di Planetarium Jakarta

Assalamualaikum calon orang sukses….

Cekgu lagi liburan di Jakarta nih. Gaooolll kaann… hahaha.

Alhamdulillah kemaren dapat tiket gratis ke Jakarta. Jangan di tanya tiketnya dari mana, pokoknya halalan toyyiban deh! Nah, mumpung lagi di Jakarta, cikgu gaul gak mau dong diem di rumah aja. Secara jalan Jakarta yang biasa macet parah jadi lengang sampai bisa main bola. Gimana nggak tergiur coba buat keluar dan menikmati lengangnya jalan di Jakarta.

Salah satu destinasi wisata yang aku kunjungi selama 9 hari di Jakarta ini adalah Planetarium dan Observatorium Jakarta.

Planetarium Jakarta ini berada dalam kawasan Taman Ismail Marzuki yang berada di jalan Cikini Raya, Jak-pus. Kebetulan lokasinya nggak jauh dari rumah nya om ku. Om ini adik bungsunya ummiku. Ya kali aja ada yang ngira aku main sama om om :D

Kami sampai disana jam 12 tepat. Dan ternyata disana udah ruammeee banget antrian beli tiket buat nonton show jam 3 sore. Kami pun ikut masuk di antrian yang sudah diatur duduk mengular. Jadi nggak capek berdiri buat nunggu 3 jam kedepan.

Jam 14.30 loketnya baru buka. Harganya murah banget. Rp. 12.000 untuk dewasa. Dan Rp. 7.000 untuk anak-anak. Satu orang bisa beli 4 tiket. Karena kami ada 6 orang sama adik-adik sepupu. Yang ngantri cukup 2 orang dan yang lainnya bisa main-main ke ruang planetariumnya. Seru!

Singkat cerita, setelah ngantri tiket kami langsung masuk Teater Bintang. Teater Bintang dengan atap mirip kubah masjid dan tanpa layar seperti di bioskop pada umumnya. Awalnya aku sempat bingung, muterin filmnya dimana yak. Eh eh eh…. Ternyata diluar dugaan. Ini sih penampakannya kayak di film-film gitu. Kereenn…
source :  http://www.aplf-planetariums.info/
Sebelum shownya di mulai kita selfie dulu. no selfie = hoax
Di dalam Teater Bintang ini kita semacam di ajak naik pesawat luar angkasa dan melihat benda-benda langit dari luar angkasa. Sandaran kursinya juga bisa rubah posisi sampai kita kayak lagi baring di hamparan padang rumput yang luas dan menatap ke langit. Indah bangeeeet…. ada juga sesi kita seperti sedang naik pesawat dan berkeliling di Luar angkasa. Adikku sampai pusing kepalanya, ngerasa kursinya muter-muter. padahal mah itu optik trik yang membuat penonton berasa berputar di luar angkasa. ah keren!

09 April 2018

Ternyata Pake Powerbank itu nyaman! | Asus Zen Power Slim Review


Sebel nggak sih, di saat  lagi butuh banget pakai Smartphone, eh tau-tau HP nya mati karena kehabisan batrai. Ini sering banget terjadi sama aku. HP semang selalu di tangan, tapi kalau sudah habis batrai, paling mager untuk bergerak mencari colokan dan ngecarge. Aku juga paling malas bawa carger kalau bepergian kemana-kemana. Kecuali kalau perginya jauh, pake acara nginep. Itu sih musti banget bawa carger.

Biasanya, kalau berangkat sekolah. HP aku tuh jarang banget dalam kondisi ada batrainya. Setelah dipake buat nemenin tidur semalam, batrainya pasti habis, dan paginya aku nggak sempet ngecarge karena pagi-pagi rempong beres-beres rumah dan siap-siap mau ke sekolah. Alhasil sering banget ke sekolah bawa HP dalam kondisi matot alias mati total. Kadang suka sebel sendiri ketika mau pake kameranya untuk foto moment seru di kelas, eh HP nya lupa di carge.

Pernah sih sempat terfikir pengen beli powerbank atau penambah daya. Tapi belum kesampean. Lagian Bingung juga mau beli powerbank merk apa. Dulu waktu masih berkelana di Papua pernah punya powerbank, itu pun hadiah dari beli tablet. Yang seminggu kemudian tidak berfungsi lagi. Menyebalkan. Padahal mau beli tablet merk itu karena ada hadiah powerbank nya *maniak gratisan level 7

Pucuk dicinta ulam pun tiba, Seminggu yang lalu aku dipinjemin Powerbank sama om-om dari Blogger Pekanbaru.  Mungkin doski kasihan kali ya liat HP aku tiap ada iven blogger malah lagi matot. Terus pinjam HP sana-sini buat foto-foto. Wahaha. Dengan baik hati dan tidak sombong, om Andrew yang kadang kami panggil Om, kadang Abang (kalau lagi ada maunya) ini meminjamkan aku powerbank dari ASUS. Duh, kalo di ceritain proses peminjamannya, bakalan panjang. Drama banget deh pokoknya!

04 April 2018

Ruang VIP di Kelas Kami


Ruang VIP biasanya dikenal dengan kenyamanan, kemewahan dan fasilitas serba lengkap. Sebut saja ruang VIP di Rumah sakit yang jauh berbeda dengan ruang biasa. Ruang biasa penuh sesak, pasien berbaris-baris, panas dan tidak ada kenyamanan sama sekali. berbeda jauh dengan ruang VIP, apalagi yang kelas I. disana bisa ditemukan TV layar datar yang tergantung di dinding pendingin ruangan dengan suhu yang sangat pas untuk menemani istirahat, dan juga ketenangan yang akan didapatkan karena satu kamar hanya satu pasien.

Begitu juga ruang VIP di bandara dengan segala fasilitasnya. Dari yang diberi akses bebas antri, sampai sofa empuk diruang tunggu yang berharga jutaan.

Nah, bagaimana jika ruang VIP ini ada di dalam lingkungan sekolah, di dalam kelas. Di pojok kelas lebih tepatnya. Akan menarik jika kamu membaca sampai habis ^_^

03 April 2018

Ngobrolin Personal Branding di Sultan Resto



Ceritanya, Selebgram asal Medan @Nasutionrizky lagi ada ivent di Pekanbaru. Kami dari Blogger Pekanbaru langsung gerak cepat menangkap dan menculiknya dari Hotel untuk di ajak nongkrong berfaedah di Sultan Resto yang dengan senang hati memfasilitasi kami ruang special aka VIP buat bisa ngobrol-ngobrol manjah dengan para blogger. Kenapa @Nasutionrizky bisa jadi seleb di instagram? Ya kerena apa yang dia posting tu punya sisi yang bisa buat orang lain suka dan mau jadi followersnya. Makanya followersnya di IG sampai 10k alias sepuluh libu lebih loh pemirsa! Ini bukan followers beli macam seleb-seleb baru jadi ya… ini followers nyata. Dengan menjadi selebgram, job review ( atau bahasa instagramnya Endorse) pun berdatangan. Dengan followers segitu banyak, kebayang dong berapa besaran biaya kalau minta endorse ke dia. Belum lagi panggilan kemana-mana sampai luar kota. Bukan, bukan dipanggil buat jadi tukang urut ya, tapi buat jadi pemateri dan berbagi inspirasi. Nah, seru kan jadi selebgram? Punya followers banyak, jago public speaking. And boom!

Kok bisa?



Nah karena pertanyaan yang sama juga kami mengundang doski buat sharing ke kami para blogger dan juga influencer pekanbaru. E jangan salah ya, di Pekanbaru juga banyak infuencher aka selebgramnya. Gosah di sebutin lah ya. panjang nanti ceritanya.

@Nasutionrizky yang kami panggil kak Rizky ini (padahal lebih muda pun dia dari pada yang manggil) mengawali materi dengan menceritakan kisah suksesnya orang yang tadinya minderan, tidak punya mimpi sampai bisa mewujudkan mimpinya dan berhasil juga punya personal branding di socmed. Ada beberapa orang yang diceritakan, dan aku bisa mengambil benang merah dari cerita-cerita kesuksesan personal branding ini dengan mencatat beberapa hal.

02 April 2018

Mengenalkan Siswa Generasi Milenial dengan Korespondensi. PART #2

Alangkah baiknya sebelum membaca cerita PART #2, baca dulu cerita Part #1 nya DISINI


Bagaikan  gayung bersambut, niatku ingin mengajak siswa berkorespondensi langsung disambut baik oleh komunitas Relawan Muda Riau yang waktu juga menerima ku sebagai salah satu relawannya. (saat ini sudah Vakum karena aku tenggelam dalam kesibukan mencari sesuap nasi dan sebongkah berlian. ehak). Dimana ada TBM (Taman Baca Masyarakat) yang di kelola salah satu relawan di Kuala Enok, Indragiri Hilir, juga sedang mencari partner untuk membalas surat dari anak didiknya di TBM Lentera Ilham. Tentu saja aku langsung exited di tawari tumpukan surat yang di tulis anak-anak SD dari Tembilahan itu. Membayangkan betapa serunya bertukar cerita dengan nuansa berbeda, yang satu dari perkampungan kecil di Inhil, yang satu lagi dari SD Swasta di Kota Pekanbaru. What a beautifull different story will coming up.

Esoknya saat pelajaran berakhir, dan anak-anak juga sudah selesai mengerjakan tugas latihan, aku pun bercerita di depan kelas mengenai korespondensi dan bagaimana teknisnya. Anak-anak sangat antusias dan berulang kali memintaku segera mennyudahi penjelasan dan memberikan amplop-amplop putih itu kepada mereka. Baiklaahh…. Cegku akan bagikan suratnya. Mendadak suasana kelas menjadi heboh.

Antusias sekali membaca surat balasan dari sahabat pena di TBM Lentera Ilham  Kuala Enok, Inhil
Plis jangan close minded dengan I Love You ya. Ini sesama Perempuan :D
kinyis-kinyis dan mengharukan gak sih.... u.. la..la...

Mengenalkan Korespondensi kepada Siswa Generasi Milenial


Generasi 2000 an atau yang lebih dikenal dengan generasi Milenial yang hidup dizaman kemudahan tentu tidak akan pernah kenal dengan yang namanya Korespondesi jika tidak di kenalkan. Padahal kegiatan korespondesi itu sangat seru dan menegangkan!
 Emang korespondensi apaan sih?

Nah, kalau kamu punya pertanyaan seperti itu ketika membaca paragraf pertama, maka kamu termasuk generasi milenial zaman now. Atau mungkin kamu hidup di zaman dulu tapi kurang gaul. Ups!

Jangan ngambek dulu, aku bakal jelasin kok. Sini-sini baca sambil makan cemilan dulu…
Korespondensi adalah kegiatan surat menyurat antara dua orang atau lebih secara terus menerus, artinya kita kirim surat, dibalas sama yang bersangkutan, kita balas lagi dan begitu seterusnya sampai Lee Min Ho melamar aku. krik krik krik.

Dengan berkorespondensi, kita akan memiliki sahabat Pena. Orang yang kita kirimi surat ini bisa orang yang kita kenal, bisa juga orang yang tidak kita kenali. Aku ceritakan sedikit nih ya, tentang pengalaman aku berkorespondensi selama kurang lebih 7 tahun. Wew, lama juga ternyata.

Dulu, aku tinggal di Asrama di sebuah Pondok Pesantren. Dimana waktu itu hobi sekali membaca, terutama novel dan majalah-majalah islami, kalau buku pelajaran sih kurang Hobi ya. hihihi. (Don’t Try this at home!).  Majalah langgananku adalah Majalah Muslimah dan Annida dengan ciri khas Nida si Akhwat dengan jilbab panjang menjulur, sedangkan Novel-novel yang aku gandrungi dari dulu adalah novel-novel islami terbitan Mizan (saat ini Mizania) yang kebanyakan penulisnya adalah dari komunitas FLP (Forum Lingkar Pena).  Di masa itu, saat aku masih memakai rok biru dongker, aku bermimpi ingin bisa menulis cerpen dan menjadi anggota FLP. Yang terwujud 5 tahun kemudian. Alhamdulillah.

Dari berlangganan majalah Annida, aku mendapatkan info novel-novel islami terbaru, dan mulai menjadi idola para penulis novel islami seperti Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, Afifah Afra, Gola Gong, Pipiet Senja sekeluarga dan banyak lagi. Selain mendapatkan info novel terbaru, di majalah Annida juga dulunya terdapat kolom “Sahabat Pena”.  Kolom itu memuat foto dan biodata singkat para koresponden. Disitu aku mencoba mengirimkan surat pertamaku kepada salah satu wanita berjilbab yang kuliah di UNJ. Jadi ceritanya aku mau sahabatan pena sama anak kuliahan, yang mana saat itu aku masih MTs, atau setara SMP. Hehehe… eh tapi aku lupa sih, dapat biodata dan alamat mbak kuliahan itu di majalah Annida atau Majalah Muslimah yang dulu juga sempat terkenal.

12 Februari 2018

Nyobain Makanan Khas Korea di Jjigae House Pekanbaru


Pernah nggak sih kalian nonton drama Korea terus ikutan ngiler di adegan makannya? Apalagi di drama Let’s Eat yang cuma aku tonton 2 episode. Nggak kuku… adegannya makan melulu. Aku tuh sampe ikutan ngidam masak mie goreng dengan kecap dibanyakin tau! Biar mirip sama ramyun gitu. Ah memang dasar drama Korea ini racun banget deh! Setiap nonton drama baik yang roman atau komedi, selalu ada adegan makan yang begitu nikmat dan menggugah selera penonton. Dari ramyun dengan porsi besar, semangkok Tteokbokki dengan kuahnya yang aduhai, sampai kimchi yang kalo di film selalu bikin ngiler. 

Tapi setelah nyobain makanan khas Korea di Jjigae House Pekanbaru ini, rasa penasaran level dewa terjawab sudah. Ternyata oh ternyata….

Jjigae House Pekanbaru.

07 Januari 2018

Green House Lezatta, Taman Bunga yang Instagramable di Bukittinggi

People zaman now itu, setiap ada spot foto baru selalu diburu. Makanya dimana pun tempat wisatanya semua ramai. Apalagi di liburan panjang akhir tahun begini. Termasuk di Green House Lezatta yang lagi kekinian banget di Bukittinggi. Ada puluhan spot foto yang bisa diburu anak tongsis seperti aku. hahaha. 

Berawal dari sarannya BangPoby yang sempat nyamperin aku waktu di Hotel Padang, di lanjut browsing di mbak Google, kami pun menemukan taman bunga ini. berangkat jam 8 pagi dengan berjalan kaki dari hotel ke jam gadang melewati Janjang Ampek Puluah. Dari jam gadang, kami naik Gocar ke Green House Lezatta yang jaraknya sekitar 25 menit dari kota Bukittinggi. Jangan tanya kenapa kami harus naik Go car,  panjang dramanya. Krik..krik..

Janjang Ampek Puluah (Tangga 40) di Bukit tinggi
My Travel Partner
Begitu sampai di TKP, aku takjub akan 2 hal.
Yang pertama, ternyata antrian masuknya panjang mengular.
Kedua, dalemnya beneran baguuuuuuussss banget!